A Day in My Life

Istirahat dan Belajar


Halo untuk kamu yang sedang baca post ini! Kalau iya, artinya mau baca "A Day in My Life", salah satu hari dalam hidupku? Kalau tentang kehidupanku, kata-kata yang tepat adalah simpel, tapi menarik. Kali ini, aku akan cerita tentang aktivitasku sehari-hari pada hari Minggu. Gak usah basa-basi lagi yuk langsung baca aja...

 

Pagi hari, dari tempat tidur aku melihat jam. Tampak pukul setengah enam. Walaupun hari Minggu, aku tetap bangun pagi karena setiap hari Minggu aku harus ke Art Center. Mungkin terlihat melelahkan jika dilihat dari kegiatanku setiap hari. Senin sampai Jumat aku sekolah dari jam tujuh hingga pukul setengah tiga sore. Lalu, aku belajar hingga malam. Pada Hari Sabtu, aku juga belajar bahasa Jepang dan mengerjakan tugas sekolah yang belum terselesaikan. Lalu, kapan aku beristirahat? Bisa dibilang aku beristirahat sambil belajar, tapi... ngapain aku ke Art Center?

 

 Setiap Minggu, Art Center mengadakan pelatihan melukis wayang, menulis aksara, tari Bali, dan kesenian Bali lainnya. Aku mengikuti dua pelatihan, yaitu melukis wayang dan aksara Bali. Melukis wayang dari jam sembilan pagi hingga sebelas siang. Wayang Bali bentuknya berbeda dengan wayang Jawa, jika wayang Jawa tangan dan kakinya panjang dan tidak menyerupai manusia. Berbeda dengan wayang Bali yang betuknya sangat menyerupai manusia. Walaupun memiliki perbedaan bentuk, nama tokoh dan penokohannya tidak jauh berbeda.

 

Lalu aku lanjut belajar menulis aksara Bali dari jam sebelas hingga jam satu siang. Kadang-kadang bukan hanya menulis aksara di kertas, tetapi juga menulis di lontar. Lontar adalah daun tal atau siwalan yang dikeringkan. Untuk menuliskan aksara di lontar harus menggunakan semacam pisau bernama pengrupak. Agar aksara terlihat, setelah ditulis lontar harus digosok dengan kemiri yang sudah dibakar sampai mengeluarkan minyak. 


        Itulah keseharianku di Hari Minggu! Memang melelahkan..., tapi aku senang melestarikan budaya Bali. Siapa lagi yang akan menjaga jika bukan kita anak bangsa? 

Komentar